Tekad Ingin jadi Prajurit TNI, Pemuda dari Pasutri Disabilitas Bisu ini Menabung Sejak SMP -->

Iklan Semua Halaman

.

Tekad Ingin jadi Prajurit TNI, Pemuda dari Pasutri Disabilitas Bisu ini Menabung Sejak SMP

Sunday, April 18, 2021
Muhammad putra dari pasutri penyandang disabilitas (Bisu) Dok. Berita11.com.


Dompu, Berita11.com - Menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) banyak yang mengidam-idamkan terutama para pemuda, bahkan sebagian orang rela berusaha apapun demi bisa tergabung dengan prajurit TNI. 


Hal seperti itu juga dilakukan seorang pemuda Muhammad (21 tahun) warga Lingkungan Mada Kimbi, Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu NTB.


Putra kedua dari pasangan suami istri (Pasturi) Kamaluddin (61) dan Mariah (56) yang menyandang disabilitas (tidak bisa berbicara atau bisu) itu, memiliki kegigihan dan bertekad untuk bisa menjadi prajurit TNI.


Muhammad sejak duduk di bangku SMP sudah mulai menyisihkan sebagian penghasilannya dari bekerja buruh harian dan serabutan agar bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti tes dan bertekad ingin mengabdikan dirinya untuk NKRI.


Meski berasal dari keluarga yang ekonominya lemah karena bapaknya hanya bekerja sebagai pendorong gerobak, namun Muhammad memiliki mimpi yang bisa dibilang sangat luar biasa.


Pemuda yang bertubuh kekar dan berbadan tinggi ini, lulusan SMKN 1 salah satu sekolah vokasi Negeri di Kabupaten Dompu dan tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah berukuran 36 meter persegi yang dibangun secara sederhana dengan penghasilan yang tidak seberapa.


Ia menabung sejak duduk di bangku SMP hingga tamat di SMKN 1 Dompu jumlah tabungan yang terkumpul sebesar Rp8 juta, akhirnya, Muhammad memutuskan untuk mengikuti tes prajurit TNI di Mataram. 


"Hasil tabungan saya Rp 8 juta, dari hasil tabungan, saya gunakan untuk membiayai segala kebutuhan untuk pendaftaran pada Bulan Maret 2021 lalu di Mataram, termasuk untuk biaya makan, transportasi, tes Swan dan lain lain," ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (17/4) siang. 


Namun perjuangan Muhammad untuk menjadi prajurit TNI belum berpihak kepadanya, proses tes gelombang pertama Muhammad dinyatakan tidak lulus. Meski demikian, hal itu tidak membuat dirinya patah semangat.


Semangat berjuang pemuda ini untuk mengikuti pendaftaran prajurit TNI pada gelombang Kedua yang akan dibuka sekitar pertengahan tahun ini tetap berkobar.


"Saya akan terus semangat dan bekerja keras serta menyambung lagi untuk mewujudkan cita cita saya menjadi seorang prajurit TNI," semangatnya. 


Hal yang mendorong pemuda yang juga diketahui tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu dan menjadi Muazin di Masjid dekat tempat tinggalnya ini rupanya telah tertanam dalam dirinya sejak mengenyam pendidikan di bangku SMP.


Sehingga, ia memiliki cita cita ingin menjadi seorang prajurit TNI. Ia juga mengaku kagum ketika melihat anggota prajurit TNI yang bersikap tegas namun tetap ramah dengan rakyat biasa. Bahkan ia sangat kagum dengan tugas TNI yang menjaga Keutuhan NKRI.


Selain itu, Muhammad juga ingin membanggakan kedua orang tuannya dan bertekad untuk mengangkat taraf kehidupan keluarganya yang secara ekonomi relatif tersisihkan di tengah masyarakat. 


"Inilah alasan kenapa saya memiliki cita cita menjadi seorang TNI," ungkap Muhammad sembari meneteskan air mata. 


Sebelumnya, informasi yang dihimpun Berita11.com melalui warga setempat, Muhammad juga bagian dari tulang punggung keluarga. 


Meski kedua orangtuanya penyandang disabilitas juga berasal dari keluarga miskin,  

namun Muhammad tidak pernah malu dan bekerja apapun demi untuk menghidupi keluarganya.


Sebelumnya, Muhammad bersama keluarganya tinggal di rumah tidak layak untuk huni. Kemudian rumah mereka mendapat rezeki melalui program bedah rumah dari Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu sekitar tahun 2016 lalu sehingga renovasi.

 

Muhammad merupakan anak kedua dari 3 bersaudara dan kakak yang pertama sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. 


Kini, yang tinggal bersama orang tuanya hanya Muhammad dan seorang adik perempuan yang juga sudah tamat SMA setahun yang lalu.


Menurut tetangganya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ayah Muhammad dulunya bekerja menawarkan jasa angkut barang dengan menggunakan Gerobak Dorong tua miliknya. 


Sedangkan Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang kadang dimanfaatkan tenaganya oleh tetangga untuk bekerja sebagai buruh tani harian dengan upah yang tidak seberapa.


Namun, sejak 3 tahun yang lalu, Kamaluddin ayah Muhammad terpaksa harus berhenti bekerja akibat penyakit Asma yang sering kambuh. Sedangkan Mariah, Ibu Muhammad memang sudah jarang bekerja karena fisiknya yang sudah tua.


"Tapi pak, sudah tiga tahun ayah Muhammad tidak mencari nafkah lagi karena penyakit sesak napasnya sering kambuh," ungkap 

salah seorang tetangganya.


Sejak itu juga, Muhammad harus menggantikan posisi ayahnya sebagai tulang punggung keluarga, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. 


"Kadang Muhammad dipanggil untuk mengecat rumah, memotong rumput dan pohon kayu di halaman rumah, kuli bangunan dan lain lain," jelasnya. 


Menanggapi terkait Muhammad yang memiliki cita cita ingin menjadi prajurit TNI, tetangganya itu sangat mendukung serta kagum kepada Muhammad yang benar-benar berjuang untuk meraih cita-citanya dan berharap, Muhammad bisa lolos tes menjadi prajurit TNI.


"Kami sangat senang kalau Muhammad bisa jadi tentara dan kami kagum lihat perjuangannya untuk meraih cita-citanya itu, apalagi Muhammad orangnya baik dan tidak pernah mengeluh meski keadaannya yang serba kekurangan," tuturnya. 


"Semoga, Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi impian Muhammad untuk menjadi tentara," tandasnya. [B-10]