Terkuak, Surat Tanda Tangan Maaf Korban KDRT untuk Terdakwa Ternyata Begini Ceritanya -->

Iklan Semua Halaman

.

Terkuak, Surat Tanda Tangan Maaf Korban KDRT untuk Terdakwa Ternyata Begini Ceritanya

Monday, May 3, 2021
Saat Mediasi antara Kejari Dompu dan Kelompok Eksponen 1998 di aula Kejari Dompu. Foto Poris Berita11.com.


Dompu, Berita11.com - Surat penerimaan maaf korban dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) inisial IPN atas permintaan maaf terdakwa Alfian Putra Setia terkuak.


Surat pernyataan ditandatangani korban hasil mediasi di Kejari Dompu beberapa waktu lalu, diduga ada unsur permainan yang diterapkan oleh pihak Kejari Dompu dan ditambah lagi dengan ketidakpahaman korban terkait surat yang ditandatanganinya.


Hal itu diungkap orangtua korban Gajali Abakar saat mediasi antara Kejari Dompu yang diwakili Kasi Intel Indra, S.H dan Kasi Pidum Islamiyyah S.H., M.H dengan kelompok eksponen 1998 yang dikoordinir Ikhwayudin, Ak di aula Kejari setempat, Senin (3/5/2021) siang.


Menurut orangtua korban, surat pernyataan penerimaan maaf tersebut terkesan ada unsur rayuan bahkan dinilai telah diatur sedemikian rupa sehingga korban menuruti untuk menandatanganinya.


"Surat itu sudah dibuatkan duluan oleh pak Isa Ansyori dan Kepala Kejari sengaja membujuk kita dengan kata-kata manis, supaya kita mau tanda tangan surat itu, berarti ada unsur sengaja," ungkap Gajali.


"Apalagi, dengan kata maaf itu dapat meringankan tuntutan terdakwa, andaikan saya tahu, tidak mau saya suruh tanda tangan anak saya, kuat dugaan kami bahwa kami telah dibodohi," sambung Gajali.


Ia menegaskan, kata maaf harusnya lahir dari hati yang tulus, sementara, kata maaf itu, tidak pernah terucap pada saat mediasi berlangsung sebagaimana yang tertuang dalam berita acara, apalagi, saat mediasi suasananya tegang dan panas.


"Sebenarnya, pada saat itu, bagaimana kami bisa memaafkan saat mediasi itu, terdakwa mencaci maki anak saya, bagaimana ada kesimpulan memaafkan sedangkan suasananya lagi tegang, hingga di hadapan Kejari saya menunjuk terdakwa, itu faktanya, sumpah demi Allah," ujar Gajali.


Ia kembali menerangkan, saat mediasi, tak seorangpun yang berbicara soal kata maaf itu, hanya Kepala Kejari Dompu saja yang mengarahkan ke pihaknya agar terdakwa dimaafkan. 


Andaikan saja kata maaf itu, lanjut Gajali, untuk dijadikan bahan perkara dalam persidangan sehingga meringankan tuntutan terhadap terdakwa, pihaknya nggak bakalan mau menerima maaf terdakwa.


"Itu fakta yang terjadi saat mediasi itu, bahkan saya berani bersumpah, saat itu, pak Isa Ansyori termasuk Ibu (Kasi Pidum, red) yang hadir saat itu tidak pernah mengarahkan saya untuk menerima maaf, tetapi hanya pak Kepala Kejari yang menyarankan saya supaya dimaafkan saja, dimaafkan saja," terang Gajali sebagaimana yang disampaikan Kepala Kejari kepadanya.


Dalam mediasi itu, pihak Kejari baik Islamiyyah maupun Indra tidak sempat memberikan klarifikasi. 


Namun, usai mediasi itu, JPU Islamiyyah, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya guna dimintai tanggapan terkait hal yang disampaikan Gajali, Islamiyyah lebih memilih untuk mengarahkan ke Kepala Kejari Dompu.


Sementara, Kepala Kejari Mei Abeto Harahap S.H., M.H sedang tidak berada di ruangan atau sedang menghadiri rapat vicon dengan Mahkamah Agung dan Kejati NTB di kantor Pemda Kabupaten Dompu. [B-10]